Bandung,27April 2008
CURRY CORNER ( Indian Cuisine ) Foodcourt Lantai 6 Blok D 12 Pertokoan Pasar Baru Bandung Ph : 022.424.6743
MENU APPETIZERS : Samosas Rp 11.000 ( 3 potong ) Mixed Vegetable Pakora Rp. 11.000 ( 4 potong )
MAIN COURSE : * Palak Paneer Rp. 23.000 ( Spinach cooked in a special combination with home made fresh cottage cheese with special masala ). * Lamb Kofta Rp. 26.000 ( Special Mutton balls in delicious and long cooked onion gravy) * Chicken Sunari Rp. 23.000 ( Boneless pieces of chicken cooked in creamy onion and cashew nuts ) * Murg Tikka Lazez Rp. 23.000 ( Boneless roasted chicken sauteed with onion, tomato and capsicum dipped in creamy tomato and cashew nut gravy ). * Vegetable Roganjotsh Rp. 22.000 ( Jamur di masak mirip dengan Lamb Kofta/ curry )
RICE : Vegetable Biryani Indian rice Rp. 26.000 ( Aromatic long grain fragnant rice basmati with fresh mixed vegetable and garnished coriander leaves, tomato and cucumber ) Lamb Biryani Local rice Rp. 21.000 ( Local rice slowly cooked with pieces of lambs along with some spices garnished with coriander leaves, tomato and cucumber).
BREAD : Plain Naarf Rp. 8.000 ( a wheat flour made bread roasted at the inside walls of the tandoor ). Cannai Rp. 9.000 ( Buttered layered bread made from flour ). Chapati Rp. 8.000 ( A typical Indian bread made from wheat flour ).
DRINKS : India / Masala Tea Rp. 6.000 Zaljeera Rp. 9.000 ( Appetizer drink made from jaggory and spiced with cumin, rock salt and garnished with bunds ). Strawberry & Lychee Lassy @ Rp. 9.000
Kumsut kali ini yang ke 2 dalam bulan April, biasanya hanya sebulan sekali berhubung kali ini teman-teman ingin mencicipin makanan yang biasanya buka hanya siang hari, jadinya hari Sabtu yang ceriah lengkap dengan senjata masing-masing ( "Omprengan lengkap dengan sendok dan garpu" = buat makan rame-rame di pinggir jalan, "payung/ topi" = buat penahan terik matahari dan hujan apabila ada), kami menyambangi Curry Corner yaitu masakan India yang Pak Bondan juga sudah pernah mencicipi resto ini.
Kloter ke-1 adalah Sienny, Budi dan Lisa yang datang pertama kali di barengin dengan Kloter ke-2 : saya dan Aisah kurang lebih jam 11.30. Menurut perjanjian di milist apabila ada yang telat akan di jepret dengan karet 1x untuk setiap 5 menit..hehehe..makanya saya cepat2 datang jadi bisa mempunyai kesempatan buat jepretin temen-temens..
Akhirnya setelah menunggu sekitar 1 jam, satu persatu datang...untungnya Sienny sudah mengorder semua makanan yang akan di cicipin jadi begitu pasukan sudah mulai kumpul gak lama kemudian datanglah makanannya satu persatu. Yang pertama adalah Samosas . Mirip dengan pastel ala Indonesia yang ngebedain adalah isinya pakai kentang, kacang polong dan bumbu kari. Untuk appetizer ke 2 adalah Mixed Vegetable Pakora. Cemilan ini mirip dengan bala-bala Indonesia yang ngebedain adalah pemakaian bumbu kari dan sayurannya dari kacang panjang hingga ke kacang polong.
Untuk main coursenya semuanya enak, bumbunya yang tidak strong sehingga lumayan friendly ria dengan lidahku. Apalagi kalau di cocol dengan roti Naan atawa Chapati. Sedang untuk roti Channai paling suka di buat untuk dessert yang di taburin keju dan susu di atasnya.  Untuk nasinya kedua-duanya juga enak malah yang Lamb Briyani suka karena spicy yang mirip-mirip juga dengan nasi goreng Aceh.
Untuk minumannya, kami mengorder 2 macam yoghurt yaitu Strawberry dan Lychee. Untuk yoghurt tidak berbeda jauh dengan yoghurt2 di tempat lain, walaupun rasa buahnya tidak terlalu dominan dan lebih terasa manisnya daripada asamnya. Paling gak kalau ada makanan/ minuman yang gak friendly ke lidah, minuman ini bisa di pakai buat untuk menetralisir.
Minuman lainnya adalah teh Masala dan Zaljeera baik yang dingin dan panas, setelah di cicipin, duh ini menu yang buat saya paling gak friendly dengan lidah saya..terlalu banyak bumbu di dalam minuman ini, yang ada 2 sendok makan juga lebih daripada cukup. 
Pintong ( Pindah Tongkrongan ) selanjutnya adalah menyusuri bagian belakang Pasar Baru yang katanya ada beberapa tempat menarik yg kudu di sambangin.
TOKO JAMU BABAH KUYA Jl. Pasar Selatan no. 33 Bandung
Ph : 022.423.8517
Dari bangunan luarnya aja sudah terlihat betapa jadulnya toko ini dan ternyata sudah di rintis sejak tahun 1800 dan pemilik yang sekarang ini adalah generasi yang ke 4. Baru kali ini masuk ke toko jamu yang begitu banyak memamerkan dari berbagai macam akar-akaran, bumbu -- bumbu masakan, tanaman liar, biji-bijian, potongan-potongan kayu hingga ke bunga Edelweis. Benar-benar warisan hasil bumi Indonesia gak terkira, semua tanaman yang dengan mata orang awam seperti saya tidak ada gunanya, ternyata di toko ini tidak ada yang terbuang.
Nama Toko Babah Kuya itu artinya Kuya adalah kura-kura sedang kalo Babah adalah panggilan buat orang tionghoa laki-laki yang lebih tua/ atasan. Sedang kalau untuk chinese simbol binatang kura-kura adalah panjang umur. Ternyata ada benernya juga, moga-moga toko ini tidak hilang dengan jaman. Photonya bisa di lihat di Sini
Gak ketinggalan beli jamu buat kholesterol, cuma kapan di minumnya wah kalau dah kepepet kali yah abis dah kebayang baunya sih hehehhe...
Pintong ke 3 selain sambil jalan kaki menuju ke arah Jalan ABC yang berada di sebrang Pasar Baru. Ada apa di Jl. ABC ? Setelah mendengar di sini terdapat penjual pisang ijo, maka untuk giliran dessertnya di pilihlah si Pisang ijo ini. Photonya bisa di lihat di Sini
Gak jauh dari si penjual pisang ijo, terdapat penjual Lotek ABC dan Cendol gentong yang Pak Bondan rekomendasi kudu di coba juga. Photonya bisa di lihat di Sini
Setelah pintong ke 3, apakah masih mau lanjut ? siapa takut ?? ^_^ Walaupun sebagian harus pamit dengan acara berikutnya, beberapa dari kami sepakat untuk melanjutkan ke daerah Jalan Kelenteng.. awalnya mau menyusuri makanan di sekitar Kelenteng, gak di lalah ada keliatan plang "Mie Budiman" yang klaimnya adalah cabang dari Mie Parahyangan Garut.
MIE BUDIMAN ( Cabang Mie Parahyangan Garut ) Jl. Budiman no. 5 Bandung Ph : 022.6002666
Jam buka : 07.00 - 19.00 ( Buka tiap hari ) Harga : Mie Yamin Asin komplit Rp. 20.000 Louw Cu Pan Goreng Rp. 13.000 Baru pertama kali, saya mencoba masakan Louw Cu Pan, yang mirip kayak cendol tapi ini bentuknya lebih besar, bulat, lebih tebal dan padat. Sayang rasanya sewaktu di makan agak keras dan tawar jadi rasanya kurang sip.
Untuk mienya lumayan lebih keras di bandingkan dengan mie yamin Bandung yang kadar kematangannya rada overcooked, buat saya yang lebih suka mie yang agak keras. Sedang untuk siomay, tahu baso dan pangsit lumayan enak.
|